Senin, 04 Februari 2008

Pemanasan Global

Pohon Bukan Solusi Perubahan Iklim *

Apa yang dulu dipandang sebagai solusi buat masalah emisi gas CO2, yakni kemampuan pohon menyerap karbondioksida hasil aktifitas manusia (CO2 antropogenik), kini mulai diragukan ‘keampuhannya’ karena fenomena pemanasan global tetap saja terjadi.

Sebuah penelitian selama 20 tahun yang menganalisa 30 titik di Kutup Utara mendapati bahwa kemampuan pohon menyerap CO2 terus menurun, padahal saat ini berkembang kampanye yang menyebutkan bahwa dengan menanam banyak pohon maka laju perubahan iklim bisa ditekan.

Gas karbondioksida yang ditimbulkan oleh aktifitas manusia biasanya diserap oleh pohon dan laut, untuk kemudian dilepaskan pada masa yang akan datang. Tapi ini bukanlah akhir dari siklus karbon.

Seperti dikutip dari laman jejaring warta lingkungan hidup www.enn.com, Senin, pohon melepaskan simpanan CO2-nya saat ia membusuk atau terurai. Hal ini kemudian memunculkan siklus karbon.

Temperatur yang semakin tinggi akibat perubahan iklim tidak hanya meningkatkan laju pertumbuhan pohon dan tanaman di seluruh dunia, tapi juga memicu emisi CO2 yang berlebihan.

Pohon kemudian berubah peran dari penyerap CO2 menjadi produsen gas karbon lewat proses penguraian yang lazim terjadi pada musim-musim akhir pertumbuhannya.

Bukti terbaru yang dikumpulkan dari seluruh dunia menunjukkan bahwa awal musim dingin terjadi mundur dari biasanya, sementara musim panas datang lebih awal.

Di Bumi belahan Utara, temperatur pada musim semi dan musim gugur naik sekitar 1,1 dan 0,8 derajat Celsius dalam kurun waktu sekitar 2 dekade terakhir.

Ini artinya musim pertumbuhan pohon semakin lama, dan para ahli menduga hal tersebut sebagai hal yang bagus buat menekan laju perubahan iklim.

Bahkan pertambahan pohon di muka Bumi bisa terlihat dari luar angkasa, citra satelit menunjukkan bahwa luasan hijau semakin besar di permukaan Bumi dari masa sebelumnya.

Namun demikian, data terbaru menunjukkan bahwa pola berpikir seperti terlalu menyederhanakan masalah.

Sekitar 30 titik pengamatan yang tersebar di Siberia, Alaska, Kanada, dan Eropa diteliti kadar CO2 di lapisan atmosfernya. Yang dikaji bukan cuma CO2 saat proses fotosintesis tapi juga CO2 yang dilepaskan pohon dan mikroba selama proses respirasi.

Tim peneliti pun memusatkan penelitiannya pada musim gugur, masa ketika hutan berubah peran dari penyimpan karbon menjadi produsen karbon.

Dan ternyata, periode mengurainya pohon datang lebih awal dalam satu tahun, di beberapa tempat menunjukkan awal periode terjadi beberapa hari lebih cepat sementara di tempat lain beberapa pekan lebih cepat dari biasa.

Temuan ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa jumlah CO2 di atmosfer bertambah lebih cepat dari perkiraan awal - dengan kata lain laju perubahan iklim akan terus meningkat pada masa mendatang.

Menurut Panel Antarpememerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), manusia hanya punya waktu 8 tahun untuk mencegah datangnya efek terburuk dari perubahan iklim.

Namun waktu dan bukti-bukti ilmiah haruslah dijadikan umat manusia sebagai panduan untuk bertindak, dan tidak ada kata lain solusinya adalah menurunkan emisi gas rumah kaca, menurunkan emisi CO2.

sumber :*media Indonesia

Abu Dujana

SIDANG TERORISME
ANTARA / PRASETYO UTOMO
Terdakwa kasus terorisme Abu Dujana memberikan keterangan sebagai saksi kasus kepemilikan senjata api yang melibatkan Amir Darurat Jamaah Islamiyah Zarkasih alias Mbah dalam sidang di PN Jakarta Selatan, Senin (4/2).

sumber : media Indonesia

Cinta, Keromantisan dan Monogami

Oleh. R.Budi Hartono

Dengan memikul tangung jawab atas reaksi-reaksi dan tindakan-tindakan kita dalam suatu hubungan, kita dapat sungguh-sungguh memberi dan menerima cinta dengan berhasil. Tampa suatu kesadaran tentang bagaimana secara khusus pasangan kita membutuhkan cinta, barangkali kita melewatkan peluang-peluang yang amat berharga.

Kaum wanita merasa disayangi terutama bila mereka menerima dukungan emosional dan fisik yang mereka butuhkan dari suami mereka. Tidak terlalu masalah apa yang diberikan suaminya asal dia melakukan terus menerus. Seorang wanita merasa disayangi bila dia merasa cinta seorang pria itu konsisten.

Ketika seorang pria tidak memahami wanita, dia cederung memusatkan perhatiannya pada upaya-upaya besar untuk memuaskan si wanita sesaat tetapi kemudian akan mengabaikannya selama berminggu-minggu/berbulan-bulan. Sementara komunikasi yang baik memberikan landasan yang sehat untuk komunikasi hubungan penuh kasih saying, keromatisan/percintaan merupakan hidangan penutupnya. Jalan menuju hati seorang wanita adalah melakukan sejumlah besar hal kecil baginya secara terus-menerus.

Berikut ini daftar pendek saya* tentang dua puluh hal yang telah teruji yang dapat dilakukan oleh seorang suami untuk menciptakan keromantisan, yakni;

  1. Belilah kartu-kartu ucapan untuknya atau tulislah sebuah pesan.
  2. Bawakan bunga untuknya.
  3. Belikan coklat untuknya.
  4. Bawalah pulang kejutan-kejutan kecil yang mengatakan bahwa anda memikirkan sewaktu anda tidak dirumah.
  5. Peluklah dia kadang-kadang.
  6. Bersikaplah penuh kasih saying di saat anda tidak ingin melakukan sek.
  7. Nyalakanlah sebatabg lilin pada saat makan malam atau di ruang tidur.
  8. Putarkan musik kesukaannya.
  9. Perhatikan apa yang dia kenakan dan berikanlah pujian.
  10. Perhatikan makanan/masakan dan restoran yang dia sukainya.
  11. Rencanakan kencan jauh-jauh hari.
  12. Matikan suara TV pada saat iklan dan berbicaralah pada istri anda dari pada mencari saluran lain.
  13. Pandanglah dia saat berbicara.
  14. Jangan menyelanya atau melengkapi kalimat-kalimatnya.
  15. Perhatikan kapan dia marah dan tawarkan pelukan anda untuknya.
  16. Tolonglah dia bila lelah.
  17. Bantulah dia membereskan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.
  18. Teleponlah dia bila anda pulang terlambat.
  19. Teleponlah dia sekedar untuk mengatakan aku mncintaimu.
  20. Rencanakan perayaan-perayaan kecil dan lakukanlah sesuatu yang berbeda.

Selamat mencoba…………………….

sumber :*Pengalaman pribadi R.Budi Hartono